Jika Anda membuat seseorang bahagia hari ini, Anda juga membuat dia
berbahagia dua puluh tahun lagi, saat ia mengenang peristiwa itu."
Kita hanya bisa mengenangkan peristiwa yang telah lampau. Begitulah, tak
ada yang lain. Mengutuk masa lalu, tak ada gunanya, hanya membuat hati
dongkol saja. Kita mengenang hari lalu dengan mengambil pelajaran atas
setiap peristiwa-peristiwa yang terjadi. Inilah cara terbaik yang bisa
kita lakukan. Mungkin, kita pernah melakukan tindakan paling bodoh atau
konyol. Biarlah peristiwa ini terkenangkan. Kelak, pengalaman
mengajarkan kepada kita untuk tidak akan mengulanginya di kemudian hari.
Ketika kita mengenang sesuatu, kadang terbersit, teringat kembali kepada
sosok yang sangat baik. Sosok seseorang yang telah tulus membantu dalam
kehidupan kita di saat kita kesulitan. Dia begitu berharga, menorehkan
sejarah tersendiri dalam kehidupan kita. Atas perilaku baik yang
dilakukannya, tersimpan dalam memori dan ingatan kita, betapa peran yang
telah diperbuat sangat punya pengaruh ketika kita sudah seperti
sekarang ini. Ya, dia memang sosok yang terkenangkan.
Hari ini, saya teringat dengan beliau, sosok yang pertama kali
mengenalkan saya pada ilmu-ilmu Allah yang begitu luas ini. Beliau
begitu sabar mengajar saya. Dengan target-target hafalan, nomor-nomor
surah sampai pada perkembangan kehidupanku ketika saya berada pada
marhalah Ta'rifiyah. Saya ingat betul, saat itu saya masih sering tak
bersemangat dalam mengikuti tarbiyah yang diberikannya. Lingkungan
akademik [perkuliahan] yang mengandalkan nalar dan retorika membuatku
sering tak bersemangat. Saya kurang tahu, benarlah kata orang kalau
lingkungan memberikan pengaruh yang besar bagi perkembangan psikis dan
fisik seseorang. Dalam kondisi seperti itulah, ustadzah itu begitu sabar
menuntun saya mengenalkan Ma'rifatullah, Ma'rifatuddien, kepribadian
seorang muslimah dan hal-hal lain yang begitu berharga.
Berkat kesabarannya, sampai saat ini saya bisa mengajarkan semua hal
yang dia telah ajarkan kepada adik-adik saya di lingkungan yang sama,
walaupun tak begitu baik, tapi bisa. Begitulah, kenangan yang silam.
Kita hanya bisa mengenangkannya. Ustadzah itu, telah menabur kenangan
dalam diri saya. Hingga, beberapa tahun kemudian masih saja saya ingat
jasa baiknya. Sebagai mantan muridnya, cara terbaik barangkali
mengucapkan Jazaakumullahu khairan kepadanya. Sayang, saya tak lagi
mengetahui dimanakah beliau berada. Tak lagi ada informasi tentang
dirinya.
Saya hanya bisa berdoa saat ini, semoga Allah kelak mempertemukan kami
kalau tidak di dunia, di akhirat kelak. Bagaimanapun juga, apa yang
dilakukannya telah menjadi sepohon amal yang terus tumbuh. Ya, beliau
yang pertama kali mengajarkan ilmu-ilmu al-qur'an kepada saya. Ketika
saya pun kembali mengajarkan kepada orang lain, saya yakin beliau juga
tetap akan mendapatkan amal baik itu. Amal yang akan memperberat
timbangan kebaikannya.
Itulah kenangan. Kitapun juga perlu menaburnya saat ini, sebelum ajal
tiba. Menabur benih-benih kenangan yang bisa kita lakukan kepada orang
lain. Kelak, orang akan mengenang kita dengan perilaku baik kita. Tapi,
yang perlu kita ingat, ini bukan motif utama kita. Satu hal yang
mendasarinya adalah ketulusan untuk berbuat baik. Siapa menabur
kebaikan, akan menuai kebaikan pula. Ini rumus kehidupan. Sekarang,
cobalah sama-sama kita evaluasi, hari ini, sudahkah kita menabur benih
kenangan itu...?
Kamis, 19 Desember 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar