Kenangan Pahit Para Pasien dan Dokter Muda Tentang Tsunami di Aceh Tahun 2004 Silam
Ketika tsunami meluluh lantakkan Aceh pada Desember 2004 beberapa tahun yang lalu, segenap bangsa dan dunia menangis. Banyak nyawa melayang…kala itu aku baru saja beberapa bulan berada di Medan untuk mengikuti kepaniteraan klinik sebagai dokter muda di sebuah rumah sakit pendidikan di sana. Waktu Aceh digoncang itu, bumi tempat kuberinjak seakan mau retak dan terbelah. Kami amatlah ketakutan, dan kemudian berita di TV tidak ada habis-habisnya mengulas peristiwa itu.
Kala itu banyak teman-teman yang lebih senior ikut memberikan bantuan sebagai tenaga medis sukarelawan. Dengan bekalku yang belum seberapa, aku tidak mengajukan diri untuk ikut ke Aceh. Sungguh mulia niat-niat para dokter muda senior, dan di setiap bagian mereka didukung penuh untuk berangkat. Tentu aku dan para co-ass junior harus menjaga gawang, dan terus memadatkan jaga kami di rumah sakit itu. Banyak teman-teman dokter muda yang berasal dari Aceh pulang melihat sanak keluarga dan kampung halamannya. Sungguh memprihatinkan, gak jarang dari mereka kehilangan anggota keluarganya. Banyak yang tiba-tiba saja menemukan dirinya menjadi anak yatim dan yatim piatu.
Tidak ada lagi yang membiayai keperluan mereka mulai dari saat itu, termasuk biaya selama mengikuti kepaniteraan klinik. Ada beberapa teman-teman dokter muda terancam putus dan tidak bisa melanjutkan co-assnya yang hanya tersisa beberapa bulan lagi. Para teman-teman ini sempat hilang timbul di berbagai bagian, kami berinisiatif mengumpulkan sedikit dana untuk membantu mereka. Namun berapalah yang bisa kami kumpulkan saat itu…dana yang tidak seberapa itu tak bisa mencukupi semuanya. Sedangkan biaya untuk 1 bulan saja tak bisa diduga, di setiap bagian/stase membutuhkan dana yang berbeda-beda..dan jumlah yang dikeluarkan ini tidaklah sedikit. Ada beberapa diantaranya menjadi depresi. Tidak ada lagi keceriaan di wajah mereka.
Sejak kejadian itu, poli jiwa mulai diserbu pasien. Keluhan mereka rata-rata adalah tidak bisa tidur, ada ketakutan dan kecemasan yang hebat tsunami akan datang, ada yang mengeluh ia mendengar terus suara gemuruh dan terdengar suara-suara jeritan minta tolong. Kasihan sekali…banyak orang tua kehilangan anaknya, dan juga sebaliknya. Para pasien ini terpaksa mengungsi ke keluarganya di Medan karena tsunami tak menyisakan apa-apalagi di daerah tempat tinggal mereka.
Bukan hanya pasien-pasien ini yang menangis di poli jiwa, beberapa co-ass/dokter muda ini pun menangis. Mereka mengusap air matanya, menampakkan rasa tegar di depan para pasien ini. Dalam hati mereka juga berteriak hal yang sama “aku juga kehilangan keluarga dan segalanya”. Seandainya bisa ditemukan mayatnya, aku sudah cukup senang…tapi masalahnya mayatnya saja tidak bisa ditemukan.
Gangguan jiwa serius bahkan dialami beberapa pasien, beberapa bulan sejak kejadian tsunami itu. Aku yang waktu itu mengikuti kepaniteraan klinik di bagian jiwa ikut trenyuh dan merasakan keprihatinan yang dalam. Ada beberapa co-ass/dokter muda kemudian tenggelam dan tidak muncul lagi di berbagai bagian, sampai sekarang aku tidak tahu apakah mereka berhasil menyelesaikan kepaniteraan kliniknya apa tidak. Kalau mereka selesaikan, pastilah kini telah menjadi dokter, tapi kalau tidak sungguh malang sekali. Semoga kondisi yang membuat mereka terpuruk itu telah terhapus dari ingatan, dan ketidakmunculan mereka saat-saat itu adalah hanya untuk menenangkan diri saja.






0 komentar:
Posting Komentar